Daftar Blog Saya

Selasa, 17 Mei 2011

Kemandirian Belajar


a.      Pengertian Belajar Mandiri dan Kemandirian Belajar
Konsep Belajar Mandiri (Self-directed Learning) sebenarnya berakar dari konsep pendidikan orang dewasa. Namun demikian berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli seperti Garrison tahun 1997, Schilleref tahun 2001, dan Scheidet tahun 2003 ternyata belajar mandiri juga cocok untuk semua tingkatan usia. Dengan kata lain, belajar mandiri sesuai untuk semua jenjang sekolah baik untuk sekolah menengah maupun sekolah dasar dalam rangka meningkatkan prestasi dan kemampuan siswa (http://www.nwrel.org/planning/reports/self-direct/index.php).
Pengertian tentang belajar mandiri sampai saat ini belum ada kesepakatan dari para ahli. Ada beberapa variasi pemahaman tentang belajar mandiri yang diutarakan oleh para ahli seperti dipaparkan oleh Mardziah Hayati Abdullah (2001: 14) sebagai berikut :
1)      Belajar Mandiri memandang siswa sebagai para pemimpin dan pemilik tanggung jawab dari proses pembelajaran mereka sendiri. Belajar mandiri mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, menentukan setting, sumber daya dan tindakan) dengan self-monitoring (siswa memonitor, mengevaluasi dan mengatur strategi belajarnya (Bolhuis; Garrison).
2)      Peran kemauan dan motivasi dalam belajhar mandiri sangat penting di dalam memulai dan memelihara usaha siswa. Motivasi memandu dalam mengambil keputusan, dan kemauan menopang kehendak untuk menyelami suatu tugassedemikian sehingga tujuan dapat dicapai (Corno; Garrison).
3)      Di dalam belajar mandiri, kendali secara berangsur-angsur bergeser dari para guru ke siswa. Siswa mempunyai banyak kebebasan untuk memutuskan pelajaran apa dan tujuan apa yang hendak dicapai dan bermanfaat baginya (Lyman; Morrow; Sharkey, & Firestone).
4)      Belajar mandiri “ironisnya” justru sangat kolaboratif. Siswa bekerja sama dengan para guru dan siswa lainnya di dalam kelas (Bolhuis; Corno; Leal).
5)      Belajar mandiri mengembangkan pengetahuan yang lebih spesifik seperti halnya kemampuan untuk mentransfer pengetahuan konseptual ke situasi baru. Upaya untuk menghilangkan pemisah antara pengetahuan di sekolah dengan permasalahan hidup sehari-hari di dunia nyata (Bolhuis; Temple & Rodero).
Jika para ahli di atas memberi makna tentang belajar mandiri secara sepotong-sepotong, maka Haris Mujiman (2005: 1) mencoba memberikan pengertian belajar mandiri dengan lebih lengkap. Menurutnya belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang di dorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna mengatasi suatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang dimiliki. Pencapaian kompetensi sebagai tujuan belajar, dan cara penyampaiannya -- baik penetapan waktu belajar, tempat belajar, irama belajar, tempo belajar, cara belajar, maupun evaluasi belajar – dilakukan oleh siswa sendiri. Disini belajar mandiri lebih dimaknai sebagai usaha siswa untuk melakukan kegiatan belajar yang didasari niatnya untuk menguasai suatu kompetensi tertentu.
Pengertian belajar mandiri yang lebih terinci lagi disampaikan oleh Hiemstra (1994:1) yang mendeskripsikan belajar mandiri sebagai berikut :
1)      Setiap individu siswa berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan dalam usaha belajarnya.
2)      Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.
3)      Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.
4)      Dengan belajar mandiri, siswa dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan kedalam situasi yang lain.
5)      Siswa yang melakukan belajar mandiri dapt melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti : membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan korespondensi.
6)      Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif.
7)      Beberapa institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka (seperti Universitas Terbuka) sebagai alternativ pembelajaran yang bersifat individual dan program-program inovatif lainnya.
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli tentang belajar mandiri di atas, penulis lebih condong dengan pendapat Hiemstra. Selain gambaran tentang belajar mandirinya lebih komprehensip, Hiemstra secara implisit menggambarkan bahwa belajar mandiri justru merupakan pendekatan pembelajaran masa depan. Hal tersebut dikarenakan : (1) naluri belajar mandiri sebenarnya sudah ada pada setiap orang; (2) belajar mandiri dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, termasuk orang-orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan; (3) siswa dapat menentukan sendiri waktu, strategi belajar, serta materi dan tujuan yang ingin dicapainya; (4) belajar masa depan bukan lagi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, namun lebih kepada pemenuhan kebutuhan untuk memecahkan masalah hidupnya. Namun demikian pendapat Hiemstra tersebut diakui belum memasukkan aspek motivasi secara jelas, padahal aspek motivasi dalam belajar mandiri merupakan sebuah prasyarat utama yang harus ada.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dan beberapa pertimbangan di atas, maka belajar mandiri dapat diartikan sebagai usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai sesuatu materi dan atau kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata.
Self-directed Learning adalah kegiatan belajar mandiri, sedangkan orang yang melakukan belajar mandiri sering disebut siswa mandiri (self-directed Learners). Mardziah Hayati Abdullah (2001: 2) mengatakan  self-directed Learners adalah sebagai “para manajer dan pemilik tanggung jawab dari proses pembelajaran yang mereka lakukan sendiri”. Individu seperti itu mempunyai keterampilan untuk mengakses dan memproses informasi yang mereka perlukan untuk suatu tujuan tertentu. Dalam belajar mandiri mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, termasuk latar belakang sosial, menentukan, sumber daya dan tindakan) dengan yang self-monitoring (proses siswa dalam memonitor, mengevaluasi dan mengatur strategi belajarnya).
Belajar mandiri dan siswa mandiri seperti sekeping mata uang yang mempunyai dua muka yang berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang mempunyai suatu fungsi yang saling mendukung. Lebih jelasnya persamaan dan perbedaan antara belajar mandiri dengan siswa mandiri digambarkan dalam bagan sebagai berikut :
Gambar 4
Pendekatan personal Responbility Orientation (PRO)
(Sumber : Roger Hiemstra : 1998: 25)

Belajar mandiri (self-directed learning) yang ada di sisi sebelah kiri dari pendekatan, mengacu pada karakteristik proses belajar mengajar atau apa yang dikenal sebagai faktor eksternal dari si siswa. Disini mengacu pada bagaimana proses pembelajaran itu dilaksanakan. Siswa mandiri (self-direction Learners) yang ada di sebelah kanan dari pendekatan mengacu pada individu yang melakukan kegiatan belajar. Termasuk di dalamnya yaitu karakteristik kepribadian siswa atau sering kita sebut faktor internal dari individu yang bersangkutan. Jika kedua hal tersebut (self-directed learning dan self-direction Learners) dapat tercipta dalam proses pembelajaran, maka individu dapat memiliki kemandirian dalam belajar (self-direction in learning).
Dengan demikian kemandirian belajar (self-direction in learning) dapat diartikan sebagai sifat dan sikap serta kemampuan yang dimiliki siswa untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata.
Perkembangan penelitian yang berhubungan dengan kemandirian belajar diperoleh hubungan yang erat antara input, lingkungan, dan proses pembelajaran dengan kemandirian belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap manusia dapat berkembang secara maksimal dalam hal kemandirian belajar, jika dalam proses pembelajaran memberikan peluang kepada siswa untuk membuat keputusan mengenai proses pembelajaran itu sendiri (Donagy, 2005: 1).
Burt Sisco dalam Hiemstra (1998:8) membuat sebuah pendekatan yang membantu individu untuk menjadi lebih mandiri dalam belajar. Menurut Sisco ada enam langkah kegiatan untuk membantu individu menjadi lebih mandiri dalam belajar, yaitu : (1) preplanning (aktivitas sebelum proses pembelajaran); (2) menciptakan lingkungan belajar yang positif; (3) mengembangkan rencana pembelajaran; (4) mengidentifikasi aktivitas pembelajaran yang sesuai; (5) melaksanakan kegiatan pembelajaran dan monitoring; dan (6) mengevaluasi hasil pembelajaran individu.
Sisco menggambarkan pendekatan tersebut di atas dalam bagan sebagai berikut :


Gambar 5 :
Individualizing Instruction Model
(Sumber : Hiemstra, 1998 : 8)


b.      Manfaat Belajar Mandiri dan Kemandirian Belajar
Banyak literatur yang mengungkap tentang kelebihan-kelebihan belajar mandiri. Mardziah Hayati Abdullah (2001: 3) dalam mengutip dari berbagai ahli memaparkan tentang keuntungan-keuntungan belajar mandiri. Orang yang melakukan kegiatan belajar mandiri mendapatkan keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
1)      Mempunyai kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam membuat pembelajaran menjadi bermakna terhadap dirinya sendiri.
2)      Menjadi lebih penasaran untuk mencoba hal-hal baru.
3)      Siswa pada belajar mandiri memandang permasalahan sebagai tantangan yang harus dihadapi, minat belajar terus berkembang dan pembelajaran lebih menyenangkan.
4)      Mereka menjadi termotivasi dan gigih, mandiri, disiplin-diri, percaya diri dan berorientasi pada tujuan.
5)      Memungkinkan mereka belajar dan bersosialisasi dengan lebih efektif.
6)      Mereka lebih mampu untuk mencari informasi dari berbagai sumber, menggunakan berbagai strategi untuk mencapai tujuan, dan dapat mengungkapkan gagasannya dengan format yang berbeda atau lebih kreatif.

c.       Prasyarat Belajar Mandiri dan Kemandirian belajar
Seseorang mau melakukan sesuatu kegiatan tertentu dipastikan karena adanya motif tertentu yang mendasarinya. Demikian pula untuk melakukan kegiatan belajar mandiri, juga diperlukan motivasi belajar yang kuat. Sebagaimana pendapat Corno dan Garrison dalam Mardziah Hayati Abdullah (2001:1) bahwa peran kemauan dan motivasi dalam belajar mandiri sangat penting untuk memulai dan memelihara usaha belajar, motivasi menuntun dalam mengambil keputusan untuk melakukan sebuah tindakan, dan kemauan menopang kehendak untuk menyelami dan menekuni kegiatan tersebut (belajar mandiri) sedemikian sehingga tujuan dapat dicapai.
Selain itu menurut Lumsden; Rencher; Biemiller dan Meichenbaum dalam Abdullah (2004:2) untuk membantu para siswa melakukan belajar mandiri dengan baik kita harus membiasakannya untuk berdisiplin. Para guru, orang tua, masyarakat dan para siswa harus juga memahami konsep motivasi siswa, metakognisi, self-efficacy, pengaturan diri, pengendalian diri dan orientasi pada tujuan. Konsep ini menyediakan dasar bagi siswa untuk menjadi seorang yang mandiri dalam belajar. Walaupun seorang siswa dapat melakukan belajar mandiri tanpa melalui proses pembelajaran, namun pengembangan dan pembelajaran dari para guru dapat membantu perkembangan mereka di tingkatan sekolah atau kelas.

d.      Keterampilan Belajar Mandiri dan Kemandirian Belajar
Belajar mandiri yang dilakukan haruslah tetap efektif, yaitu tetap dalam rangka mencapai tujuahn tertentu yang telah ditetapkan dalam waktu tertentu. Agar dapat mencapai tujuan, belajar secara efektif, maka diperlukan beberapa keterampilan untuk melakukan kegiatan belajar mandiri.
Menurut Haris Mudjiman (2005: 120) belajar mandiri memiliki tiga tahap pelaksanaan, yaitu tahap pengembangan motivasi, tahap pembelajaran, dan tahap refleksi. Sehingga keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk belajar mandiri adalah adalah keterampilan yang diperlukan untuk mengerjakan setiap tahap belajar mandiri.
Pada tahap pengembangan motivasi, keterampilan yang perlu dikuasai adalah keterampilan menumbuhkan self-motivation. Untuk dapat menumbuhkan self motivation diperlukan beberapa keterampilan seperti : (1) kemampuan mengetahui detail dari kegiatan; (2) kemampuan menganalisis dan menyimpulkan bahwa kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan terjangkau; (3) kemampuan menikmati pengalaman belajar; (4) kemampuan melakukan penilaian secara obyektif.
Pada tahap pembelajaran, keterampilan yang perlu dikuasai adalah keterampilan dasar penelitian, yang meliputi : (1) keterampilan merumuskan masalah; (2) keterampilan menetapkan tujuan belajar; (3) keterampilan menetapkan strategi; (4) keterampilan menetapkan jenis informasi yang diperlukan; (5) keterampilan mengidentifikasi sumber informasi; (6) keterampilan mencari informasi; (7) keterampilan menganalisis informasi; (8) keterampilan merumuskan hasil analisisnya; (9) keterampilan mengkomunikasikan hasil belajarnya; (10) kemampuan menilai pada akhir kegiatan belajar.
Pada tahap refleksi, keterampilan yang diperlukan antara lain : (1) kemampuan menentukan kebenaran dan kesalahan; (2) kemampuan menerima kesalahan sebagai sesuatu yang wajar; (3) menggunakan kesalahan untuk perbaikan; (4) kemampuan menerima keberhasilan bukan untuk kebanggaan namun sebagai kenyataan untuk dipahami untuk ditingkatkan pada proses berikutnya.
Seluruh keterampilan di atas harus ditumbuhkan oleh guru dalam proses pembelajaran dengan melakukan berbagai strategi pembelajaran yang memungkinkan untuk berkembangnya seluruh keterampilan di atas.
Kemandirian belajar siswa akan terlihat dari kemampuannya untuk menguasai berbagai keterampilan sebagaimana dipaparkan oleh Haris Mudjiman di atas. Secara lebih tegas Knowles, M.S dalam : http://home.tweny.ri.com/hiemstra/ menjelaskan bahwa kemandirian belajar seseorang dapat terlihat dari 10 kemampuannya sebagai berikut :
1)      Kemampuan untuk bertanya, menemukan dan memecahkan masalah.
2)      Kemampuan untuk terbuka terhadap pandangan-pandangan orang lain
3)      Kemampuan membaca data dan kecepatan memilih sumber-sumber yang relevan
4)      Kemampuan untuk mengumpulkan data mengenai kinerja yang didasarkan pada pengamatan diri dan masukan dari orang lain.
5)      Kemampuan untuk menilai kinerja sendiri dengan menggunakan data tersebut
6)      Kemampuan untuk menterjemahkan kebutuhan belajar menjadi tujuan, rencana, dan kegiatan.
7)      Kemampuan untuk menetapkan tujuan untuk memperbaiki kinerja saat ini.
8)      Kemampuan mengamati dan menjadikan model kinerja orang lain
9)      Kemampuan menetapkan suatu komitmen yang kuat untuk belajar agar tujuan-tujuan tersebut tercapai
10)  Kemampuan untuk memelihara motivasi diri secara kontinyu.
Jika seluruh ketrampilan tersebut diatas dikuasai oleh siswa, kemandirian belajar siswa pasti akan tercipta. Sehingga proses pembelajaran yang dilakukan olehnya pasti akan berkualitas dan mendapatkan hasil/ kompetensi belajar sesuai yang diinginkan.
Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini, kesepuluh keterampilan yang diuraikan oleh Knowles, M.S diatas yang akan dijadikan instrumen angket untuk mengetahui kemandirian belajar seseorang. Kemudian kecakapan di atas akan dijabarkan dalam butir-butir yang lebih terinci dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar untuk kemudian dijadikan instrumen yang berupa angket sebagai alat pengumpul data.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar